-->

Iklan


 

Menjenguk Saksi Bisu Pertempuran di Waringin Bandung

Senin, 24 Mei 2021, Senin, Mei 24, 2021 WIB Last Updated 2021-05-24T07:16:39Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini



Bandung - Bertepatan dengan Hari Jadi Ke-75 Kodam III/Siliwangi 20 Mei lalu Harris Fratelo dan Edi, keduanya pegiat Paguyuban Sapedah Baheula Bandung,  menggowés ontelnya ke seputar Jalan Kelenteng, Kota Bandung. Mau apa mereka ke Kelenteng?


Harris yang juga aktif di DHC BPK 45 (Dewan Harian Cabang Badan Pembudayaan Kejuangan 45) Kota Bandung itu ingin memastikan bahwa di Jalan Kelenteng tersebut masih terdapat sisa-sisa pertempuran para pejuang Bandung sebagai cikal bakal Pasukan Siliwangi. 


“Kita jenguk. Apakah masih ada atau bagaimana nasibnya?” tutur Harris. 


Memang, hingga saat ini belum nampak ada tanda-tanda atau monument/stilasi yang mengingatkan masyarakat adanya “saksi bisu” pertempuran sengit di Jalan Kelenteng yang pernah terjadi. 


Harris dan Edi memilih hari di tanggal 20 Mei dalam rangka turut memperingati Hari Ulang Tahun Ke-75 Kodam III Siliwangi. Peristiwa Pertempuran Waringin itu sendiri terjadi di bulan Januari 1946, beberapa bulan sebelum terjadinya Bandung Lautan Api dan lahirnya Kodam III/Siliwangi. Para pejuang  Bandung itu juga masih  sebagai anggota TKR (Tentara Keamanan Rakyat) sebelum berubah menjadi TNI. Pertempuran Waringin ini tercatat dalam Sejarah Perjuangan Batalyon I Resimen VIII. 


Saksi bisu yang dimaksud itu berupa tiang listrik yang sudah puluhan tahun berdiri di tempat itu. Sedikitnya ada 2 tiang listrik yang sampai sekarang masih nampak berdiri meski berlubang-lubang, bekas tumbukan peluru nyasar, berondongan senjata mesin dari tank tentara sekutu. Letaknya di sisi timur jalan, sebrang sebuah toko swalayan. Ada juga rumah bergaya kuno yang masih utuh dan apabila ditilik-tilik terdapat beberapa lubang yang sepertinya bekas tumbukan peluru. 


Harris dan Edi menyenderkan ontelnya ke tiang listrik itu, lalu merapatkan bendera merah putih ke tiang tersebut, seolah menyampaikan kabar kepada para pejuang itu bahwa perjuangan dan pengorbanan mereka tidak sia-sia. Sang Saka merah putih sudah berkibar bebas tidak hanya di Bandung tapi juga di seluruh Indonesia. Tidak lupa Harris dan Edi sejenak mengheningkan cipta dan berdoa untuk para arwah pahlawan, cikal bakal Pasukan Siliwangi itu.


“Setidaknya di bawah tiang listrik ini kami bisa mengheningkan cipta dan mendoakan arwah para pejuang yang  dulu berperang di kawasan ini,” ujar Harris. 


Selain itu, mereka juga mengingatkan para pedagang kaki lima di sekitarnya agar ikut menjaga keutuhan tiang listrik yang bernilai sejarah tersebut,  karena di lokasi itu belum nampak adanya monumen atau stilasi yang berkaitan dengan peristiwa pertempuran di Waringin antara pejuang Bandung dengan Pasukan Inggris yang dibantu tentara Gurkha (Sikh)  saat itu. 


Harris dan Edi juga berharap agar segera adanya perhatian dari dinas terkait di pemerintahan Kota Bandung yang berkenan membuat monumen atau stilasi di bawah tiang listrik itu. 


“Warga Kota Bandung harus tahu dan menghormati lokasi itu, bahwa di sekitar itu ada aura ruh para pejuang Bandung yang sudah rela berkorban jiwa raganya untuk apa yang sudah kita  nikmati di zaman merdeka ini,” pungkas Harris


Komentar

Tampilkan

Terkini